Tuma’ninah dalam melakukan sholat

Tuma’ninah dalam melakukan sholat, Jika anda rukuk dan sujud, jangan sekali-kali anda melupakan tuma’ninah. Jangan hendaknya menjadikan sholat anda seperti ayam mematuk padi. Sholat seperti itu tidak sah, karena tidak ada tuma’ninah, berarti sudah jelas bahwa hukum tuma’ninah adalah tidak sah. tuma’ninah di dalam rukuk, I’tidal, kedua sujud duduk diantara keduanya adalah kewajiban yang tidak boleh di tinggalkan di dalam sholat. Sholat tanpa tuma’ninah adalah batal. Orang yang tidak menyempurnakan rukuk, sujud dan khusuk di dalam sholatnya adalah di kategorikan orang yang mencuri sholat, sebagaimana tersebut di dalam sebuah riwayat di bawah ini. jangan sampai kita melakukan sholat hanya untuk menggugurkan kewajiban kita. kita harus bersungguh-sungguh dalam melakukannya. simak hadist di bawah.

tumaninah-dalam-melakukan-sholat

tuma’ninah dalam shalat artinya berhenti sejenak. Dalam sholat sunnah maupun wajib, tuma’ninah bermakna gerakan pada waktu kita ruku’ dan i’tidal hendaklah yang sewajarnya, tidak usah buru-buru/tergesa-gesa atau dibuat selambat-lambatnya, yang paling pas adalah dengan gerakan yang sewajarnya.

arti tuma’ninah dari segi bahasa dan istilah adalah sama saja sebenarnya yaitu berhenti sejenak. kapan kita melakukan tuma’ninah yaitu : 1. saat rukuk 2. saat I’tidal (berdiri tegak setelah rukuk) 3. saat sujud 4. saat duduk di antara dua sujud

Di dalam hadist dinyatakan : “ Barang siapa memelihara sholat dan menyempurnakannya, maka sholatnya akan terangkat (ke atas langit) dalam keadaan putih cemerlang. Sholat itu berkata : ‘semoga Allah memelihara engkau, sebagaimana engkau memelihara aku’. Tetapi, orang yang tidak menyempurnakan sholatnya, niscaya sholatnya itu akan terangkat dalam keadaan hitam legam. Sholat itu berkata : ‘semoga Allah menyia-nyiakan engkau, sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku’. Lalu sholat itu dilipat-lipat, sebagaimana di lipatnya baju yang koyak, dan di  pukulkan ke muka orang yang mengerjakannya.”

Hadist lainnya :

????

Artinya : “sesungguhnya, sholat itu adalah ketenangan hati, kerendahan diri dan permohonan jiwa.”

Sekali waktu Rasulullah saw telah melihat seseorang yang sedang memilin-milin jenggotnya di dalam sholatnya, maka beliau berkata : ‘sekiranya hati orang ini khusuk, niscaya khusuklah seluruh anggotanya’”.

Berdasarkan hadist ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa kekhusukan anggota adalah bertolah dari kekhusukan hati, dan bahwa sholat itu tidak akan sempurna tanpa kekhusukan. Berkata para salaf ‘barang siapa bisa memperhatikan orang yang ada di kanan kirinya di dalam sholatnya, orang itu tetap tidak khusuk’.

Acapkalali kekhusukan di dalam sholat itu menguasai sebagian para salaf ke peringkat yang menakjubkan. Terkadang, ketika mereka berdiri atau sujud di dalam sholat, burung yang datang bertengger di atas mereka, menyangka mereka itu tembok atau tiang, disebabkan mereka terlampau tenang dan khusuk dan terlalu lama berdiri dan sujud.

Beberapa kisah orang-orang salaf dalam kekhusukannya dalam melaksanakan sholat

Sekali peristiwa, tiang masjid di basrah pernah runtuh dan menyebabkan orang-orang di sekitar masjid itu pontang-panting. Ketika itu, di dalam masjid ada seorang salaf yang sedang asyik sholat. Lantaran terlampau khusuk di dalam sholatnya, ia tidak merasakan apapun sebagaimana yang di rasakan orang-orang sekitarnya.

Ada di antara para salaf yang berkata pada anak istrinya, “Manakala aku masuk sholat, lakukanlah apa-apa yang engkau sukai. Engkau boleh mengangkat suara atau bersenda gurau, karena ketika itu aku tidak akan mendengar apa-apa lagi.” Mungkin, seandainya mereka memukul gendang, niscaya ia tidak akan mendengarnya, karena terlampau khusuk sholatnya.

Sebuah peristiwa lagi, tatkala rumah Sayyidina Ali bin Husain ra, padahal beliau sedang khusuk di dalam sujudnya, orang banyak berteriak-teriak memanggilnya, “ Wahai cucu Rasulullah! Api! Api! Namun, beliau tetap melanjutkan sujudnya, tanpa mengangkat kepalanya. Setelah selesai sholat, beliau di beritau tentang peristiwa yang terjadi, maka jawabnya, “ Saya sedang di sibukkan dengan api akhirat ketika itu.”

Sekali waktu, pernh di ajukan pertanyaan kepada sebagian mereka, “ Pernahkah anda di hantui oleh was-was kehidupan dunia ketika dalam sholat, sebagaimana kami juga ?” jawabnya “sekiranya tubuhku di tusuk-tusuk oleh tombak lebih aku sukai dari yang demikian.”

Yang lain ditanya pula, “ Pernahkah engkau berkata-kata dengan dirimu di dalam sholat ?” jawabnya “ Adakah sesuatu yang lain lebih utama bagiku dari sholat, sehingga aku boleh berkata-kata dengan diriku ketika mengerjakannya ?”.

Tatkala Ar-Rabi’ bin Khaitsam di tengah-tengah sholatnya, tiba-tiba datang seorang pencuri mencuri kudanya. Orang ramai menyumpah-nyumpah pada pencuri itu. Tetapi, Ar-Rabi’ berkata “ saya melihat dia membuka tali ikatan kuda itu.” Orang ramai bertanya “ mengapa engkau tidak mengejarnya dan merampas kuda itu kembali ?” Jawab Ar-Rabi’, “ sholatku lebih kuutamakan ketimbang seekor kuda.” Padahal, jika ia mau, niscaya ia bisa membatalkan sholatnya dan mengejar pencuri itu.

Seorang sahabat Rasulullah saw. Sholat di kebunnya. Ketika itu, kebetulan ada beberapa ekor burung sedangbeterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya, sehingga terpesonalah pandangannya kepada beberapa ekor burung itu, sehingga lupa bahwa ia sedang mengerjakan sholat. Karena itu, ia menyesali dirinya, lalu melepaskan kebun itu untuk keperluan fi sabilillah, hanya karena kebun itu telah melalaikannya dari satu sholat saja.

Saya beranggapan, bahwa semua itu bisa terjadi karena para salaf saleh tau benar, betapa tinggi derajat sholat dan betapa penting kedudukannya di sisi agama.

Di dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Allah swt telah membagi-bagi gerakan laku sholat kepada empat puluh ribu baris terdiri dari para malaikat, pada tiap-tiap baris terdapat tujuh puluh ribu malaikat pula. Sepuluh ribu baris, semuanya berdiri tidak rukuk sama sekali. Sepuluh ribu yang lain rukuk dan tidak pernah sujud. Sepuluh ribu lagi sujud terus, tidak mengangkat kepala dan sepuluh ribu yang terakhir duduk, tidak bergerak pula. Semua faedah ini di kumpulkan kepada seorang hambanya yang mukmin, apabila ia sholat 2 rakaat. Bukankah itu merupakan rahmat dan kelebihan dari Allah swt. Untuk hamba-hambanya yang mukminin.

Rasulullah saw bersabda :

????

Artinya : “ Perumpamaan sholat 5 waktu itu seperti sebuah sungai yang airnya mengalir deras melintas di depan pintu rumahmu (dan kamu mandi) setiap malam dan siang sebanyak 5 kali. Apakah masih meninggalkan kotoran lagi setelah itu ?” jawab para sahabat “tentu tidak!”.

Sabdanya lagi :

????

Artinya : Satu sholat kepada sholat yang lain adalah menjadi penebus dosa diantara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.

Apabila tiba waktu sholat, Sayyidina Abu Bakar ra. Sering kali berkata “ pergilah kepada api yang kamu nyalakan itu dan padamkanlah segera.” Maksud api yang kamu nyalakan ialah dosa-dosa yang telah kamu lakukan. Maksud memadamkannya ialah mendirikan sholat, karena sholat itu penebus segala dosa yang anda lakukan dan bakal menghapuskannya.

Allah swt berfirman dalam surat AlHud ayat 114

????

Artinya : “ dan laksanakanlah sholat pada kedua ujung siang  (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).”

Menurut sebuah riwayat, ayat  ini turun berkenaan dengan seorang lelaki yang bercumbu rayu dengan seorang wanita, tanpa melakukan zina. Lelaki tersebut telah datang kepada Rasulullah saw memohon hukuman atas kesalahannya. Tetapi, Rasulullah saw hanya berdiam diri tidak berkata sepatah katapun, hingga sholat di laksanakan. Setelah selesai sholat, beliau menyeru lelaki itu, lalu membacakan ayat tersebut tadi (maksudnya, sholat yang baru di lakukan tadi telah menghapus dosa itu). Beliau ditanya pula oleh lelaki itu, “apakah hokum itu khusus bagiku, atau bagi sekalian ummat?” beliau menjawab “bahkan, ia merata bagi sekalian ummatku.”

Peristiwa ini menunjukkan, bahwa dosa-dosa kecil bisa di hapuskan oleh sholat, dan juga oleh kebaikan-kebaikan yang kita amalkan setiap hari, selain bertobat dan memohon ampunan dari Allah swt. Tetapi, ia hanya berlaku bagi dosa-dosa kecil saja. Meski demikian, kita harus berhati-hati pula dan tidak boleh menganggap enteng dosa-dosa kecil.

Sebenarnya, tidak ada hukuman (had) atas lelaki yang mencumbui wanita tanpa melakukan zina seperti mencium, menyentuh atau yang semisal itu. Tetapi, lelaki tadi menyangka, bahwa perbuatan itu harus di kenai hukuman, sedang Allah dan Rasulnya lebih mengetahui.

sumber : terjemahan kitab An-Nasa’ih Ad-Diniyah wal-Wasaya Al-Imaniyyah (nasehat agama dan wasiat iman)

Demikianlah sobat mukminin, artikel tentang Tuma’ninah dalam melakukan sholat.

Tuma’ninah dalam melakukan sholat | muklis | 4.5

Leave a Reply

%d bloggers like this: